Mari Jadilah Sang Pencipta Hormon Kebahagian

Saya dengan sengaja menghidupkan alarm handphone pada jam 04.30. Sebelum meraih selimut, wajah saya tersenyum lebar; esok hari saya berencana untuk jogging di pagi hari, kemudian minum kopi, serta merasakan kebahagiaan dalam hati saat singgah di Kota Tepat Khatulistiwa, Pontianak Kalbar.

Setelah tidur lelap, berolahraga, minum kopi, dan merasa cukup dengan segalanya, saya mulai mencoba mengendalikan hormon di dalam tubuhku. Bagaimana tidak? Selama beberapa minggu harus pergi dari keluarga, apalagi mendengar kabar bahwa anak saya sedikit sakit. Saya ingin tetap tenang dan terutama menjaga kebahagiaan pikiran saya.

Kebahagiaan terkait dengan pelepasan hormon seperti endorfin, serotonin, oksitosin, dan dopamin. Endorfin berperan dalam meredakan tekanan dan kecemasan, serotonin menyebabkan rasa senang atau baik, oksitosin mempertahankan emosionalitas, sementara dopamin mendukung semangat untuk tetap termotivasi hidup.

Hormon tersebut dapat diatur supaya muncul dalam tubuh kita. Kebahagian berasal dari diri sendiri, dibangun oleh diri sendiri, dan dapat dirasakan juga oleh diri sendiri. Hormon ini bisa dipaksakan dilepaskan, kita dorong ia untuk memenuhi keperluan akan kebahagiaan. Keberadaan kebahagiaan adalah hasil penciptaan, tidak datang dengan cara mencarinya.

Menelepon video bersama keluarga, berdoa satu sama lain dan membangkitkan semangat, horeee hormon cinta mulai mengalir. Bertemu dengan orang tercinta walaupun hanya lewat layar perjalanan jauh pun tak menjadi masalah. Pastinya akan tertidur sambil tersenyum lega karena aliran hormon bahagia ini.

Pagi-pagian bangun, jogging di waktu subuh, menikmati atmosfir biru saat fajar. Hormon kebahagiaan ini lancar mengalir dan membawa perasaan tenang serta meredakan keresahan dan ketegangan; bahkan sampai nyeri fisik pun hilang. Saya yakin Anda tahu cerita tentang seseorang yang sudah biasa gemar berolahraga mendadak memutuskan untuk tidak lagi melakukan aktivitas tersebut, akibatnya tubuh mereka akan mencari hormon pembawa kesenangan ini dengan cara lain seperti timbul sensasi pegal-pegal atau sakit pada tubuh.

Tiba di kedai kopi. Meminum segelas kopi racikan Asiang. Sluurp panjang menyeret permukaan kopi secara perlahan sampai ujung lidah. Rasa tersebar rata di seluruh bagian lidah dan langit-langit mulut. Kopinya memiliki body tebal dengan aroma coklat, karamelnya mencolok, setelah tenggatkannya pahit namun menyegarkan, heeeettsss cukup sudah ini bukan saat cupping melainkan sekadar minum kopi. Hormon serotonin terpicu, membuat suasana hatiku meninggi serta merasakan banyak energi positif dari mereka-mereka yang bersedia beranjak pagi-pagi hanya untuk ngopi.

Setelah minum kopinya selesai, aku melirik jam tanganku. Wah, ternyata sudah menempuh 3 kilometer di Jalan Gajah Mada, Pontianak. Aku mendapat ritme lari terbaik saat dipercepat oleh seekor anjing tadi; hehehe... Cepat sekali rasanya berlari pada kecepatan tersebut, mungkin cocok dicoba untuk mencapai 10 kilometer nanti. Alhamdulillah, semangat ku memuncak hanya karena melihat waktu di jam tangan itu, dan membuatku yakin untuk kembali ke hotel sambil sombong bilang: setelah ngopi disuruh bikinin Asiang.

Sederhana saja itu kebahagiaan, meski esok hari ada tantangan, mari cari jalan keluar tanpa perlu lelah berlarian atau repot membuat kopi. Sudah pahamkah kamu tentang cara bersukacita...?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar