Rekomendasi Destinasi Unik untuk Liburan ke Desa Adat di Bali

BALI menduduki posisi sebagai salah satu tempat tujuan wisata favorit secara global tak lepas dari beberapa faktor, seperti pesonanya yang memukau serta warisan budaya lokal dan tradisi yang tetap dilestarikan hingga kini berkat eksistensi desa-desanya. desa adat Memiliki pesona khusus pula.

Jadi, apabila Anda keliru mengunjungi Pulau Dewata, berikut adalah sejumlah desa adat yang bisa dikunjungi. Bali Yang bisa Anda pikirkan untuk dimasukkan ke dalam daftar tempat yang akan dikunjungi saat berlibur.

1. Desa Penglipuran

Desa Penglipuran Terdapat di Desa Kubu, Kabupaten Bangli dan letaknya tak jauh dari dasar Gunung Batur. Wilayah bernama Pengeling Pura ini dipercaya menjadi lokasi keramat bagi nenek moyang dengan pemandangan luar biasa indahnya. Uniknya lagi, desa Penglipuran menampilkan arsitektur serupa dengan jalanan yang membentuk rangkaian terhubung satu sama lain.

Para pengunjung yang datang ke desa khas ini bisa memperluas pengetahuan mereka tentang budaya, tradisi, serta aneka upacara Ritual yang tersedia di Penglipuran. Terdapat pula peraturan setempat untuk penduduk Desa Penglipuran yaitu dilarang menjalani poligami atau memiliki lebih dari seorang isteri. Apabila pelaku melanggarnya, orang tersebut akan diasingkan dan dipindahkan ke dusun dengan nama Kerang Memadu.

2. Desa Tigawasa

Desa Tigawasa ditempatkan di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng dan berada pada ketinggian antara 500 sampai 700 meter dari permukaan laut. Di sini, para tamu bisa merasakan kopi robusta yang dipetik secara langsung dari ladang petani lokal, bercerita dengan penduduk setempat, serta mengenal lebih jauh tentang tradisi dan norma-norma budaya yang ada di wilayah itu.

3. Desa Sidatapa

Desa Sidatapa merupakan desa tertua di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng dan berada pada ketinggian 450 meter di atas permukaan laut. Di sana dapat ditemukan beberapa rumah tradisional tua seperti Bale Gajah Tumpang Salu yang telah ada sejak tahun 785 Masehi. Rumah-rumah ini menghadap ke arah belakang jalanan, dibuat menggunakan dinding dari tanah, serta didukung oleh 12 tiang penyangga terbuat dari kayu.

Di dalam Bale Gajah Tumpang terdapat area yang dikenal sebagai Tri Mandala, yang digunakan untuk aktivitas harian serta menjadi lokasi peribadatan. Pengunjung memiliki kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah, upacara tradisional, dan budaya setempat melalui kunjungan mereka di Kampung Sidatapa. Tambahan pula, wisatawan bisa menyaksikan pembuatan kerajinan anyam dari bambu dan menikmati tarian ritual unik asli dari desa tersebut.

4. Desa Cempaga

Dikenal karena atraksi tarian suci seperti jangkang, baris, pendet, dan rejang, dusun Cempaga terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Tempat ini tetap melestarikan tradisi lokalnya serta menawarkan pemandangan alam yang memesona.

5. Desa Tenganan

Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Dari abad ke-11, masyarakat Desa Tenganan tetap menjaga struktur rumah adat mereka serta mengikuti peraturan budaya yang disebut awit-awit, yang direvisi lagi pada tahun 1842. Oleh karena itu, meskipun sudah berkembangan sebagai destinasi pariwisata, atmosfer tradisional dan warisan Budaya Bali Aga (sebelumnya Hindu) masih begitu dominan dalam kehidupan sehari-hari penduduk setempat.

6. Desa Kapal

Dilansir dari buku " Jelajahi Pesona Badung Dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, Desa Kapal berlokasi kira-kira 15 kilometer dari tengah Kota Denpasar dan secara spesifik terdapat di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

Desa ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi kerajinan arsitektural, dikenal juga karena kedudukannya sebagai tempat dari sebuah situs candi kuno dan menjunjung tinggi warisan budaya setempat. Di samping itu, Desa Kapal adalah salah satu daerah utama dalam penjualan barang-barang tembikar di Pulau Bali. Tak hanya itu, desa tersebut juga terkenal dengan kebiasaan uniknya yaitu pertandingan lempar bantal atau 'perang tipat' yang biasanya dilaksanakan di hadapan Pura Desa dan Pura Puseh Desa Kapal.

Nur Qomariyah dan Dini Diah menyumbang untuk penyusunan artikel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar